SERANGAN ISRAEL TERAKHIR

January 1st, 2009 by fathulwahhab

Sewaktu penulisan buku ini (dasar pembuatan situs ini) dimulai, Palestina tengah mengalami bulan-bulan pertama Intifadah al-Aqsa. Dari hari paling awal Intifadah baru ini, pemerintahan Israel menanggapi dengan keras demontrasi jalanan warga Palestina. Namun, sementara itu, bentrokan di wilayah ini menjadi jauh lebih keras. Untuk membalas bom bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa kelompok Palestina, Israel telah melangkah lebih jauh dalam menekan Daerah Pendudukan. Operasi Israel yang dilakukan di darat, laut, dan udara ditujukan terutama terhadap orang-orang sipil Palestina. Hari-hari terkeras selama Intifadah al-Aqsa mungkin telah meledak begitu tahun 2002 dimulai.

Dalam operasi terakhir ini, yang digambarkan oleh pihak berwenang sebagai yang terbesar di Daerah Pendudukan dalam 20 tahun terakhir, tentara Israel mengirimkan sekitar 20.000 tentara. Dengan pengerahan ini, yang dianggap sebagai sebuah pertanda awal akan adanya pembantaian besar-besaran, tentara Israel mulai mencaplok wilayah-wilayah yang ditempati rakyat Palestina satu demi satu. Operasi ini sebenarnya telah diramalkan berbulan-bulan sebelumnya. Seperti telah kita bahas di bagian sebelumnya “Ariel Sharon Bersiap untuk Perang,” sumber-sumber media asing telah meramalkan pendudukan itu. Berita yang bocor dari pemerintahan Israel ini juga menunjukkan bahwa Israel tengah mempersiapkan perang besar.

Begitu pendudukan dimulai, pemandangan yang mengingatkan pada penyerangan Libanon 1982 mulai tampak. Hal yang sama terjadi di setiap kamp pengungsi yang dicaplok dan daerah berdekatan. Pertama-tama, suara tank dari kejauhan dan letupan senjata terdengar, lalu generator yang menyuplai arus listrik dihancurkan, menjerumuskan daerah ini ke dalam kegelapan dan mengasingkannya dari dunia luar. Sebelum bergerak jauh, pesawat-pesawat F-16 datang untuk membantu tank-tank. Semua ini hanyalah langkah pertama pengepungan yang lebih besar lagi.

Seluruh dunia
bereaksi keras
ketika tentara-
tentara Israel ini
mengambil gambar
yang menunjukkan mereka melangkah di atas mayat
seorang pria
Palestina yang
baru saja mereka
bunuh.

Pemandangan ini benar-benar seperti daerah perang layaknya. Tank-tank Israel memasuki kota-kota dalam pemerintahan Palestina seperti Gaza, Ramallah, Nablus, dan Tulkarem, menghancurkan segalanya di sepanjang jalannya; Pesawat-pesawat F-16 menghujankan bom di atas orang-orang yang tinggal di kamp-kamp pengungsian. Pemimpin PLO Yasser Arafat tidak dapat meninggalkan tempat kediaman resminya, dengan kata lain, ia telah dipaksa menjalani tahanan rumah. Hanya dalam satu hari serangan itu, 40 orang terbunuh. Tentara Israel menembaki rumah-rumah sakit, ambulan, dan sekolah-sekolah, termasuk sekolah untuk tuna netra yang didirikan oleh PBB. Para wartawan asing di tempat kejadian melaporkan bahwa orang-orang yang terluka selama serangan ini tidak dapat dibawa ke rumah sakit karena tank-tank Israel mengepung rumah sakit dan mencegah setiap ambulan untuk keluar masuk. Di samping itu, ribuan orang diperiksa tanpa alasan yang jelas, dan lusinan mereka dikirim ke penjara. Di beberapa kamp pengungsian, seluruh lelaki berusia antara 14 dan 60 dibawa pergi untuk disidik. Beberapa di ntara mereka, setelah ditahan selama 2 hari dengan tangan terikat dan mata ditutup, kemudian ditahan dalam penjara. Di kamp Dheisheh, misalnya, 600 laki-laki dipaksa untuk disidik; 70 dari mereka ditahan tanpa tuduhan resmi. Gambar-gambar orang-orang sipil dengan mata tertutup yang menunggu penyidikan yang diperlihatkan pada pers hanya memperlihatkan salah satu perbuatan tak masuk akal yang dilakukan oleh tentara Israel.

Tentara-tentara Israel menarik seorang pria Palestina keluar dari mobilnya dan menjadikannya bulan-bulanan. Laki-laki tak bersenjata ini diborgol, dibaringkan di atas tanah, ditelanjangi, lalu dengan brutal ditembak mati. Seorang Palestina bisa dibunuh oleh tentara Israel di tengah jalanan, meskipun mereka telah menyerah.
Dalam operasi terakhirnya melawan Palestina, Israel mengirim 20.000 tentara ke wilayah ini. Tank-tank mengepung kota-kota Palestina dan menghancurkan segalanya yang melintasi jalan mereka.

Pers melaporkan beberapa perbuatan kejam lain selama pendudukan Israel: Gambar tentara Israel ketika melangkah di atas mayat seorang Palestina yang baru dibunuh, memukul dan membunuh seorang lelaki Palestina di tengah jalan meskipun ia telah menyerah, tank-tank Israel yang memukul dan menghancurkan ambulan yang diparkir di sisi jalan tersebut, dan orang Palestina yang dihujani dengan roket. Bahkan, teror yang bersamaan diarahkan pada anak-anak, sebuah target yang sudah lumrah bagi mereka. Kebijakan Israel terhadap anak-anak tidak hanya ditentang oleh orang-orang Palestina saja, tapi juga oleh seluruh dunia, termasuk warga Israel. Penulis Israel terkenal Gideon Levy, musuh abadi kebijakan Israel di Daerah Pendudukan, mengkritik tajam hal itu dan bertanya pada masyarakat Israel:

Harian Turki AKSAM, 22 Januari 2002
TULKAREM DI BAWAH PENDUDUKAN


Harian Turki STAR, 28 Februari 2002
ISRAEL MEMULAI SERANGAN TERBURUKNYA
Harian Turki SABAH, 5 Desember 2001
ISRAEL MENEMBAK SEBUAH BANGUNAN 30 METER DARI ARAFAT


Harian Turki HURRIYET, 13 Maret 2002
PERLAKUAN NAZI
Pemimpin Palestina Yasser Arafat menuduh Israel “berprilaku seperti Nazi” dengan memberi nomor di tangan-tangan tahanan Palestina.


Harian Turki YENI SAFAK, 29 Maret 2002
TAKUT AKAN ADA PEMBANTAIAN DI RAMALLAH
Israel mempersiapkan pendudukan besar-besaran atas Ramallah, pusat politik pemerintahan Palestina.


Harian Turki TURKIYE, 5 Maret 2002
KAMP-KAMP PALESTINA DIRATAKAN DENGAN TANAH
Dengan operasi terakhirnya, Israel seolah telah menduduki seluruh wilayah Palestina. Pendudukan ini ditandai sejumlah pembantaian besar-besaran dan ratusan orang tak bersalah kehilangan nyawanya dalam waktu singkat 10 hari.

Adakah yang memerintahkan para tentara menembaki kepala anak-anak, ataukah mereka melakukannya atas kemauan sendiri? Apa bedanya? Masih bisakah kejadian seperti itu disebut ketidaksengajaan? Ataukah ini sudah menjadi norma, menembak untuk membunuh pelempar batu, anak-anak maupun dewasa? Dan ini masih kita sebut bukan kejahatan perang? Coba, adakah orang-orang IDF yang peduli dengan perilaku tentara seperti ini?122

Harian Turki RADIKAL, 21 Februari 2002
SHARON MAKIN KERAS
Israel menanggapi serangan militan Palestina pada pos-pos pemeriksaan militer dengan serangan darat, laut, dan udara. Sharon tersudut karena 15 orang Palestina tewas.
Harian Turki ORTADOGU, 5 Maret 2002
SERUAN PERANG DARI ISRAEL
Dengan menyerang tempat-tempat penampungan pengungsi sipil, Israel bertekad menjadikan Palestina ladang pembantaian. Saat Menteri Kehakiman Israel berkata, “Mereka akan meminta gencatan senjata,” walikota Yerusalem menyeru masyarakat untuk berperang.
Harian Turki CUMHURIYET, 11 Maret 2002
SHARON MENGUMUMKAN PERANG

Adam Shapiro, seorang pendudukung hak asasi manusia Amerika yang tinggal di Ramallah, menggambarkan pemikirannya tentang tentara Israel dalam memperlakukan Daerah Pendudukan:

Pendudukan ini bersandar pada pemusnahan manusia. Inilah sebabnya para tentara tega melakukan apa yang mereka mau, mereka diharapkan dan didorong untuk tidak melihat orang-orang Palestina sebagai manusia. Saya tidak yakin bahwa tentara Israel sudah kejam dari sananya, tapi saya percaya bahwa ketika mereka bertugas… mereka meninggalkan rasa kemanusiaannya di belakang… Ketika Israel akhirnya memahami bahwa pendudukan ini adalah akar dari pertikaian di sini, dan dengan begitu meninggalkannya dan membiarkan orang-orang Palestina untuk hidup dalam kemerdekaan, kata-kata yang perlu digunakan untuk menerangkan dan memahami dunia kita sekali lagi akan bermakna. Kalau belum sampai di sana, “kemanusiaan” akan tetap menjadi kata dengan makna tapi tanpa pengamalan…123

Pada hari kesepuluh pendudukannya, tentara Israel mengumumkan telah membunuh 200 orang Palestina. Laporan dalam The Independent ini menggambarkan bagaimana 30 orang kehilangan nyawanya di satu kamp dalam waktu 48 jam, dan bagaimana kamp tersebut diberondong oleh helikopter tempur.
Peter Beaumont, koresponden Palestina untuk The Observer, melaporkan dari Ramallah: “Saya melihat mayat-mayat, terbunuh oleh tembakan ke kepala” (atas). Satu kesamaan seluruh orang Palestina yang dibunuh oleh tentara Israel adalah luka di kepala karena tembakan peluru jarak dekat, dan koresponden The Observer ini menekankan hal itu.
Dalam edisi Amerika The Palestine Chronicle, Jennifer Loewenstein membahas kengerian yang terjadi di Ramallah dalam artikelnya: “Pembantaian di Ramallah: Bukankah Demokrasi Israel Itu Mengagumkan?” Bagian ini menerangkan bahwa beberapa mayat punya sebanyak 16 lubang peluru, yang sebagian besarnya ditemukan di bagian muka yang tengkurap ke tanah, dan bahwa senjata mereka telah dilucuti. Bahkan, tentara Israel terus menjadikan anak-anak sebagai sasaran, termasuk seorang bocah laki-laki 10 tahun yang tertembak dan terbunuh sewaktu bermain di dekat perbatasan Rafah karena “ia bermain terlalu dekat dengan perbatasan.”

Kebijakan kekerasan Israel meningkat lebih jauh dari sekedar kekerasan. Beberapa kelompok radikal Palestina meningkatkan bom bunuh diri mereka yang ditujukan pada warga sipil Israel. Ketika berhadapan dengan perkembangan ini, Ariel Sharon dan pemerintah Israel memutuskan untuk tidak melanjutkan kebijakan yang terukur dan berkepala dingin, tapi menganggap perlu meningkatkan lagi tingkat penindasan dan kekerasan. Dalam sebuah pernyataan persnya, Sharon berkata:

“Kita harus menyebabkan mereka mengalami kerugian, luka-luka, sehingga mereka tahu mereka tidak akan dapat apa-apa… Kita harus memukul mereka, pukul, pukul lagi, sampai mereka mengerti.” Bagaimana dengan menawarkan sebuah pemecahan politik, sang perdana menteri ditanya. Sekarang, jawabnya, bukanlah waktu untuk prospek politik, ini cuma untuk prospek militer.124 Anggota Partai Likud Meir Sheetrit, dalam pernyataannya kepada parlemen, mengatakan bahwa ia mendukung kekerasan yang dilakukan oleh tentara Israel di Daerah Pendudukan, dengan menekankan bahwa ia akan mendukung setiap tindakan militer “yang dirancang agar orang-orang Palestina berteriak meminta gencatan senjata.”125 Teknik ini tidak menyelesaikan apa-apa, selain mendorong ke dalam lingkaran setan kekerasan. Seperti telah kita bahas di atas, peristiwa di Palestina sekali lagi membuktikan bahwa masalah ini tidak pernah dapat dipecahkan dengan kekerasan.

Menurut angka-angka yang diterbitkan PBB, selama operasi Israel dijalankan, 1620 rumah terus mengalami kerusakan berat, beserta 14 bangunan umum, termasuk beberapa sekolah. Di Jenin, dari 2500 bangunan yang ditempati 14.000 orang Palestina di sana, 550 rusak. Enam rusak ringan, 541 dengan aneka kerusakan, dan tiga rusak total. Di Balata, dari 3700 bangunan yang ditempati 20.000 orang, 670 mengalami kerusakan. Dari jumlah ini, 10 rusak total dan 14 rusak parah. Di Nur Al-Shams, 100 dari 1500 rumah tempat 8000 orang tinggal, rusak, tiga di antaranya tengah dihancurkan. Di Tulkarem, 300 dari 2900 bangunan yang didiami 16.000 orang rusak; enam di antaranya rusak total dan 30 rusak parah. Kerugian ekonomi keseluruhan ditaksir sekitar 3,5 juta dolar.126

Surat kabar Israel terkemuka Ha’aretz mengkritik kekerasan pemerintah Israel dalam pernyataannya berbunyi “Makin besar pemaksaan, makin besar perlawanan.”
The Economist menyatakan bahwa peristiwa di Timur Tengah telah berubah dari bentrokan menjadi perang sesungguhnya. Majalah ini menyatakan hal ini dalam “From Intifada to War (Dari Intifadah Menjadi Perang).”
Operasi Israel dilaporkan oleh Washington Post dengan berita utama “Mideast Fighting Intensities; both Sides Vow More (Menegangnya Pertempuran Timur Tengah, Kedua Pihak Bersumpah Lebih Keras Lagi).”

Masa ini, yang menyebabkan Israel dikritik tajam oleh PBB dan Uni Eropa, berakhir dengan langkah penting pertama Amerika Serikat mengirimkan juru runding untuk menangani krisis ini. Tank-tank Israel mulai menarik diri dari wilayah Palestina, meninggalkan daerah yang hancur berat, dan kedua pihak memasuki perundingan keamanan.

Pangeran Saudi Arabia, Abdullah.

Selama penarikan singkat ini, salah satu upaya penting dilakukan untuk memastikan datangnya perdamaian adalah dalam bentuk sebuah rencana damai yang disampaikan oleh Pangeran Saudi Arabia, Abdullah di The New York Times. Menurut rencana ini, sebagai ganti mundurnya Israel dari batas pra-1967nya (menurut resolusi PBB), negara-negara Arab akan mendinginkan kembali hubungannya dengan Israel. Usulan ini diterima positif oleh sebagian besar orang Palestina. Akan tetapi, radikalisme di kedua belah pihak menghambat pelaksanannya.

Akibatnya, penarikan tank-tank hanya memberi waktu senggang untuk tentara Israel. Dalam beberapa hari, pendudukan baru dan lebih menyeluruh dimulai. Kali ini, sasarannya adalah Tepi Barat, dan khususnya Ramallah, tempat markas besar Arafat. Hasil operasi ini menempatkan markas Arafat dalam kepungan, hampir memaksanya tinggal di satu ruangan saja, sementara bahaya besar dihadapi oleh penduduk sipil Palestina. Militer Israel tidak menghentikan langkahnya menduduki Ramallah saja, melainkan merampas seluruh kota-kota Tepi Barat satu demi satu. Arus listrik diputuskan, dan pemadaman itu menyebabkan tak teraturnya aliran air. Tempat ini dikenakan jam malam ketat, dan penduduk mulai mengalami kelaparan karena aliran makanan anjlok. Ketika orang-orang yang sakit dan orang lanjut usia serta anak-anak berusaha mempertahankan hidupnya dalam keadaan brutal ini, hampir seluruh lelaki berusia antara 14 dan 50 tahun ditangkap oleh tentara Israel. Ketika tentara Israel meng

Kemuliaan Taat Kepada Ibu

January 1st, 2009 by fathulwahhab

Suatu saat Rasulullah Saw bercerita kepada para sahabat, “Sungguh, kelak ada orang yang termasuk tabi’in terbaik yang bernama Uwais. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepadanya. Sehingga, kalau dia mau berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Dia punya sedikit bekas penyakit kusta. Oleh karena itu, perintahkan dia untuk berdoa, niscaya dia akan memintakan ampun untuk kalian.” [HR Muslim].

Bernama lengkap Uwais Al-Qarni, ia tinggal bersama ibunya di negeri Yaman. Setiap hari ia menggembalakan domba milik orang lain. Upah yang diterimanya cukup untuk biaya hidup bersama ibunya. Bila ada kelebihan dari upahnya itu terkadang ia berikan kepada tetangganya yang kekurangan.

Ia termasuk orang yang taat beribadah, selalu menjalankan ajaran yang dibawa Rasulullah Saw. Ia punya suatu keinginan yang belum terlaksana sejak lama yaitu bertemu dengan Rasulullah Saw. Keinginan itu kian memuncak setiap kali melihat tetangganya yang baru pulang dari Madinah dan sempat bertemu Rasulullah Saw. Tetapi apa daya, ibunya sudah tua renta dan sangat lemah. Ia begitu menyayanginya sehingga tak tega meninggalkannya sendiri.

Semakin hari kerinduan bertemu Rasulullah Saw bertumpuk. Ia sangat gelisah mengingat-ingat itu. Suatu hari kerinduannya tak tertahan lagi, ia memberanikan diri mengungkapkan perasaan itu kepada ibunya. Mendengar curahan hati anaknya, ibunya terharu, ia pun diijinkan menemui Rasulullah Saw.

Namun kerinduan itu tak sempat terobati karena saat ia datang, Rasulullah Saw sedang tak berada di rumah. Ingin sekali ia menunggu, tetapi ia teringat pesan ibunya untuk segera pulang. Ia pun memilih mentaati ibunya dan segera berpamitan pada ‘Aisyah.

Ketika Rasulullah Saw kembali, beliau pun menanyakan mengenai seseorang yang mencarinya. ‘Aisyah menjelaskan kedatangan Uwais. Kemudian Rasulullah Saw mengatakan bahwa Uwais yang taat pada ibunya itu penghuni langit. Rasulullah Saw meneruskan keterangan tentang Uwais kepada para sahabat. Seraya memandang Ali dan Umar beliau mengatakan, “Suatu ketika jika kalian bertemu dengan Uwais mintalah doa dan istighfar darinya.”

Ibu adalah Pencetak Pemimpin dan Pembina Umat (Oleh M. Quraish Shihab)

December 21st, 2008 by fathulwahhab

“Ibu” dalam bahasa Al-Qur’an dinamai dengan umm. Dari akar kata yang sama dibentuk kata imam [pemimpin] dan ummat. Kesemuanya bermuara pada makna “yang dituju” atau “yang diteladani”, dalam arti pandangan harus tertuju pada umat, pemimpin, dan ibu untuk diteladani. Umm atau “ibu” melalui perhatiannya kepada anak serta keteladanannya, serta perhatian anak kepadanya, dapat menciptakan pemimpin-pemimpin dan bahkan dapat membina umat. Sebaliknya, jika yang melahirkan seorang anak tidak berfungsi sebagai umm, maka umat akan hancur dan pemimpin [imam] yang wajar untuk diteladani pun tidak akan lahir.

Agaknya, ketika Al-Qur’an menempatkan kewajiban berbuat baik kepada orangtua–khususnya kepada ibu–pada urutan kedua setelah kewajiban taat kepada Allah, bukan hanya disebabkan karena ibu memikul beban yang berat dalam mengandung, melahirkan, dan menyusukan anak. Tetapi juga karena ibu dibebani tugas menciptakan pemimpin-pemimpin umat.

Fungsi dan peranan inilah yang menjadikannya sebagai umm atau ibu. Dan demi suksesnya fungsi tersebut, Tuhan menganugerahkan kepada kaum ibu struktur biologis dan ciri psikologis yang berbeda dengan kaum bapak. Peranan ibu sebagai pendidik generasi bukanlah sesuatu yang mudah. Peranan itu tidak dapat diremehkan atau dikesampingkan. Namun demikian, ini bukan berarti bahwa ibu harus terus menerus berada di rumah dan tidak mengikuti perkembangan. Juga, pada saat yang sama, ia tidak harus menelusuri jalan yang ditempuh oleh kaum bapak.

Maurice Bardeche, pakar dari negara Prancis yang dinilai sebagai pelopor yang mengumandangkan “kebebasan” dan “persamaan”, dalam bukunya Histoire des Femmes memperingatkan: “Janganlah hendaknya kaum ibu meniru kaum bapak, karena jika demikian akan lahir–bahkan telah lahir–jenis ketiga dari manusia.”

Sekali lagi, apa yang dikemukakan di atas bukan berarti bahwa kaum ibu harus terus-menerus berada di rumah–siap menanti kedatangan suami setelah menyiapkan makan dan membersihkan rumah–karena bukan itu yang menjadi tugas pokoknya.

Walaupun kita tidak sepenuhnya sependapat dengan ulama besar kenamaan Ibnu Hazm [384 – 456 H], namun tak ada salahnya untuk mengutip pendapatnya: “Baik dan terpuji apabila seorang ibu atau istri melayani suaminya, membersihkan dan mengatur rumah tempat tinggalnya, tetapi itu bukan merupakan kewajibannya. Makanan dan pakaian yang telah siap dan terjahit untuknya justru menjadi kewajiban bapak untuk menyediakannya.”

Agaknya, ketika ulama besar itu mengemukakan pendapatnya ini seribu tahun lalu, dan yang diidamkan oleh pelopor emansipasi, beliau ingin menekankan pentingnya kewajiban ibu dalam mendidik anakanaknya.

Oleh karena itu, sebagai anak, kita berkewajiban mengingat jasa-jasa ibu: seteguk ASI yang pernah kita minum, setetes keringat yang pernah dicurahkannya, seuntai kalimat bimbingan yang pernah disampaikannya–kesemuanya itu tidak mungkin diimbangi atau terbalas. Kita hanya dapat bermohon: Rabbî irhamhumâ kamâ rabbayâni saghîra

Pernikahan, melengkapi dan melindungi

December 19th, 2008 by fathulwahhab

Keluarga sakînah, mawaddah dan rahmah, bukanlah keluarga yang tanpa gejolak. Penyatuan dua jiwa dengan sifatnya masing-masing mustahil tanpa ada benturan dan kesalahpahaman. Begitu pun juga, dari berbagai peristiwa yang mengiringi perjalanan waktu keduanya [suami dan istri] ada perkara yang menimbulkan sikap yang berbeda. Tak jarang pula perbedaan itu berakhir dengan percekcokan dan perselisihan.

Pasangan yang berharap menjadi keluarga sakînah, mawaddah dan rahmah, justru menjadikan semua gejolak itu sebagai bumbu penyedap keharmonisan hubungannya. Seperti garam yang asin itu menjadi bumbu penyedap masakan sehingga menjadi lezat. Kekurangan-kekurangan dari pasangan yang diketahui setelah sekian lama bersama tidak menimbulkan kekecewaan.

Masing-masing menyadari sepenuhnya bahwa ia terlahir memang untuk menutupi kekurangan dan menjadi pelindung kelemahan pasangannya. Allah swt memberi perumpamaan, suami atau istri menjadi penutup dan pelindung pasangannya seperti sebuah pakaian. Kalam-Nya: “Mereka [istri-istri] itu adalah pakaian bagi kamu [wahai para suami], dan kamu pun [para suami] adalah pakaian bagi mereka [para istri kamu]” [QS 2: 187].

Di bawah ini ada dua kisah nyata yang menceritakan bagaimana hubungan suami-istri bisa saling melengkapi dan melindungi sehingga tergambar hubungan yang dilandasi dengan cinta sejati.

Keajaiban Cinta
Seperti setiap laki-laki yang akan menikah, Eko Priyo Pratomo berharap istrinya nanti bisa menjadi istri dan ibu yang baik dah shalehah sekaligus menjadi sahabat yang bisa saling mendukung hingga akhir hayat.

Harapan itu tidaklah berlebihan, Dian Syarif, istrinya adalah perempuan yang sangat aktif, energik, dan memunyai kondisi fisik yang prima dengan pemikiran yang cerdas. Karena kemampuannya itu ia dipercaya menjabat sebagai Corporate Communication Manager di salah satu bank swasta nasional.

Namun tiba-tiba, Dian terserang penyakit yang menurut dokter tak bisa disembuhkan. Seumur hidupnya, ia harus bergantung pada obat-obatan. Dian divonis terkena penyakit lupus. Penyakit bernama lengkap Systemic Lupus Erythematosus [SLE] yang dialami Dian menyerang darah. Karena itu ia diberi obat-obatan untuk meningkatkan trombositnya.

Terapi obat yang Dian jalani memiliki efek yang cukup berat. Selain membuat wajahnya membengkak, obatobatan tersebut mengakibatkan rusaknya saraf mata. Sekarang kemampuan penglihatan Dian hanya lima persen saja. Ia hanya bisa melihat siluet tanpa bisa mencermati detai-detail benda di depannya.

Kondisi fisik Dian melemah karena penyakit ini juga menyerang organ-organ tubuh yang lain. Kandungan Dian pun harus diangkat karena mengalami pendarahan terus-menerus. Hilanglah kesempatan Dian mengandung anak.

Melihat kondisi istrinya itu, Eko sangat takut sekali. Terlintas dalam pikiran Eko, Dian akan meninggalkannya. Karena itu Eko berjuang melawan perasaannya itu dan harus tetap memberi semangat hidup pada istrinya sambil terus berusaha mencari cara mengurangi penderitaannya.

Tak sedikit pun terlintas dalam pikiran Eko untuk berpaling dari Dian. Padahal, karena merasa hidupnya sangat merepotkan, Dian sempat meminta Eko untuk menikahi wanita lain. Tetapi Eko menolak, ia sangat mencintai Dian dan menurutnya cinta adalah kebahagiaan ketika bisa memberi dan berkorban tanpa merasa terbebani.

Ia menambahkan, “Saya juga sedang belajar mencintai sebagai ungkapan terimakasih dan syukur kita kepada Allah swt yang begitu mencintai dan menyayangi kita.” Tak cuma itu, bagi Eko, sekarang Dian bukan hanya menjadi pendamping hidup, tetapi juga sebagai ladang amal baginya dan orang lain.

Pernikahan bagi Eko tidak sekedar memenuhi hasrat manusia sebagai mahkluk biologis dan sosial yang membutuhkan pendamping dalam hidup di dunia. Namun yang jauh lebih penting, pernikahan harus menjadi bagian dari ibadah dan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Perhatian, cinta dan kasih sayang Eko beserta seluruh keluarga menjadi pendorong Dian untuk bisa bertahan. Semua itu menjadikannya tetap bersemangat dan berkeinginan kuat untuk tetap hidup. Di saat itulah Dian merasakan keajaiban cinta. Meski dengan segala keterbatasannya, Dian tetap bisa menerapkan kemampuannya berkomunikasi, tetapi yang dikomunikasikannya berbeda. Melalui Syamsi Dhuha Foundation [SDF], yayasan yang didirikan bersama EKO, Dian berbagi dengan sesama penderita lupus [odapus] dan sahabat low vision [lovi].

Kamu Tetap Kepala Keluarga
Cerita yang kedua ini berkisah tentang perjuangan seorang ibu bernama Tingka yang selalu menjaga semangat hidup keluarganya setelah suaminya terkena stroke. Kisahnya berawal pada Minggu sore sekitar sepuluh bulan yang lalu. Pada hari itu, Bambang–suaminya–tiba-tiba terkulai tak berdaya di ruang ICU sebuah rumah sakit. Hari itu juga tim dokter memutuskan untuk melakukan operasi.

Usaha yang dilakukan dokter ternyata tak segera membuat Bambang pulih kembali. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai wartawan itu lumpuh total dan belum bisa diajak berkomunikasi meski hanya bahasa isyarat.

Melihat kondisi suaminya seperti itu Tingka menyadari bahwa kini ia yang harus memegang kendali rumahtangga. Berusaha agar kehidupannya bersama seluruh anggota keluarga bisa terus berjalan. Menjaga tiga anak mereka agar tetap punya semangat hidup. Apalagi anaknya yang pertama sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir lulus SMA.

Ia berujar kepada ketiga anaknya, “Kalian semua harus tabah dan tetap bersikap seperti biasa. Bersekolah dan bermainlah seperti sebelum ayah sakit. Kalau hari libur ingin jalan-jalan bersama teman-teman kalian, silakan saja. Namun kalian harus lebih bisa menjaga diri kalian, sekarang ayah di rumah sakit dan ibu harus sering berada di sana.”

Setelah suaminya boleh dirawat di rumah, Tingka memperlakukannya seperti orang yang tidak sakit. Ia selalu bercerita kegiatan apa yang dilakukan hari ini, berkirim email dan bertemu dengan siapa. Padahal ia tahu kalau suaminya belum bisa merespon semua yang dibicarakannya. “Seperti monolog saja,” katanya. Ia juga meminta anak-anaknya bersikap sama seperti dirinya. Setiap pulang sekolah, mereka ngobrol dengan Bambang.

Sikap keluarga yang demikian berpengaruh positif kepada perkembangan kesehatan Bambang. Saat diajak berkomunikasi, Bambang sudah bisa merespon meski hanya dengan isyarat. Kesehatan fisiknya pun membaik, ia mulai kuat diajak jalan-jalan keluar rumah.

Pada hari ulangtahun pernikahan yang ke-duabelas, Tingka mengajak Bambang jalan-jalan ke mal. Dengan mendorong Bambang di kursi roda, Tingka membawa Bambang berkeliling ke sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Tingka tidak perduli meski pengunjung yang lain memperhatikan dengan pandangan aneh pada dirinya. Bagi Tinka, yang penting adalah berusaha membuat Bambang senang.

Ternyata, usaha Tingka tidak sia-sia. Setelah diajak jalan-jalan, kondisi Bambang semakin membaik. Sejak itu pula, setiap ada kesempatan Tingka selalu mengajak Bambang ke luar rumah. Sekedar jalan-jalan atau berkunjung ke rumah sahabat. Saat bulan puasa yang lalu, Tingka sering mengajak Bambang hadir di acara buka puasa bersama. Teman yang ingin menjenguk Bambang diajak bertemu di suatu tempat, di mal, atau justru Tingka dan Bambang yang pergi ke rumah temannya itu.

Semua yang dilakukan Tingka itu dilandasi keikhlasan dan rasa cinta. “Saya pikir bukan hanya saya saja, semua istri akan melakukan hal yang sama ketika suaminya sakit, begitu juga sebaliknya. Masak, terus ditinggal begitu saja..” katanya merendah.

Menurut Tinka, menjalankan bahtera rumahtangga pasti ada kalanya naik dan terkadang pula diuji dengan kesusahan. Ia menganggap sakitnya Bambang merupakan ujian dari Allah swt dan ia yakin Allah swt pasti memiliki rencana dengan semua peristiwa ini. Paling tidak, Tingka merasakan, saat ini ia merasa lebih dekat secara batin dengan Bambang dan anak-anaknya.

Perubahan secara spiritual juga terjadi pada Tinka. Sekarang ia berusaha untuk selalu menjaga ibadahnya. Dengan begitu Ia merasa lebih dekat dengan-Nya.

Bagi Tinka, yang harus tetap dijaga sekarang adalah kepercayaan diri dan semangat suaminya. Ia selalu mengatakan pada suaminya, “Meski sekarang aku yang mengurus semuanya, tapi kamu tetap kepala keluarga. Aku dan anak-anak masih tetap membutuhkanmu. Kamu harus cepat sembuh.”

Setitik Perhatian Berbuah Kebahagiaan

December 19th, 2008 by fathulwahhab

Ada ruang kosong dalam hati Andi [bukan nama sebenarnya] yang sampai sekarang tak pernah terisi. Ruang itu untuk ibunya. Saat usianya masih dalam hitungan bulan, ia dititipkan pada sebuah keluarga. Kemudian ibunya pergi entah ke mana. Sampai kini, saat usianya sudah 35 tahun, ia belum pernah sekali pun bertemu dengan ibunya, apalagi mengenalnya.

Ia merasa aneh ketika sadar bahwa selama ini tak ada seseorang yang dipanggilnya ibu. Ia pun merasa rindu mendapat perhatian dan kasih sayang seorang ibu seperti teman-temannya. Lalu muncullah pertanyaan yang membuat sebagian hidupnya tercurah untuk mencari jawabannya: siapa ibunya? Hingga suatu saat dalam pencariannya itu ia merasa bahwa ibunya memang tidak menginginkannya. Sampai pada titik itu ia berhenti mencari dan menjalani hidup seperti apa adanya.

Benar, hidupnya tetap berjalan meski tak ada seorang pun yang dekat dan akrab layaknya keluarga. Orang-orang yang mengasuhnya tak pernah tulus. Bahkan ia pernah dibawa ke panti asuhan untuk dititipkan segera setelah sang ibu menyerahkannya. Tetapi karena takut berdosa, keluarga itu mengambilnya kembali. Ia tumbuh menjadi sosok yang mandiri. Semua masalah dalam hidupnya diusahakannya tanpa banyak bantuan dari orang lain, termasuk mencari nafkah untuk biaya hidupnya. Ia telah menjadi seorang Project Manager sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Karena terlalu lama hidup sendiri, sampai-sampai ia merasa aneh saat ada orang yang berusaha mendekat.

Namun, ruang kosong itu terasa kembali saat tahun lalu ia menikah. Ia sedih, bagaimana peristiwa yang begitu penting itu tak disaksikan ibunya. Ia membayangkan betapa bahagia ibunya saat melihatnya berhasil seperti sekarang ini.

Air mata Andi menetes tak tertahan saat ia berkisah pada kami. Ia merasa menjadi anak yang paling malang di dunia ini karena tak bisa berbakti pada ibu yang melahirkannya. Bagaimana bisa berbakti, sedangkan keberadaannya pun tak terlacak.

Tak hanya Andi, secara naluriah setiap orang punya ruang dalam hatinya untuk seorang ibu. Ibu yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita dengan segenap cinta dan kasih sayangnya. Karena setiap manusia, terkecuali Adam dan Hawa, pastilah memiliki ibu. Jika Andi amat merindukan kehadiran sosok sang ibu, bagaimana dengan kita yang sering berselisih paham dengan ibu? Lantas apa yang perlu dilakukan oleh seorang anak untuk berbakti pada ibunya?

Menghormati Ibu
Apabila sejenak merenung dan mengamati sejarah hidup kita, kemudian bertanya: siapakah orang yang paling banyak pengorbanannya untuk kita sehingga kita bisa seperti sekarang ini? Tentu jawabannya adalah ibu. Karena itu pantaslah ibu menjadi manusia yang paling kita hormati.

Rasulullah Saw pun menganjurkan untuk itu. Dalam sebuah hadits terkenal yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw menyebut ibumu sebanyak tiga kali ketika ada seorang laki-laki yang datang kepada beliau dan menanyakan, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Baru kemudian beliau menyebutkan “bapakmu”.

Sangat wajar ibu mendapatkan itu. Ibulah yang berusah payah mengandung dan melahirkan kita, “Ibunya mengandung dengan susah payah, melahirkannya dengan susah payah” [QS 46: 15]. Dalam konteks itu Sayyid Quthub menuliskan, kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang Embriologi dapat membantu kita untuk mengetahui bahwa secara lahiriah, betapa besar pengorbanan seorang ibu saat mengandung anaknya.

Setelah terjadi pembuahan zat yang merupakan cikal bakal manusia, zat itu kemudian bergerak menuju dinding rahim untuk menempel. Dalam zat itu terdapat potensi menyerap makanan sehingga saat menempel, diding rahim itu disobek dan dimakannya. Mengalirlah darah segar melingkupi zat itu sehingga senantiasa leluasa untuk berenang di dalamnya.

Sari pati makanan yang banyak terkandung dalam darah ibu itu dihisapnya sehingga ia bisa tumbuh dan berkembang. Setiap makanan dan minuman yang dimakan ibu sebagian besar berubah menjadi saripati makanan dalam darah yang lahap dimakannya. Selanjutnya pada periode pembentukan tulang-tulang, semakin banyak kebutuhannya akan kalsium. Ibu memberinya, selain dari makanan, ia juga mengambil kalsium dari tulang-tulangnya. Semuanya ditujukan agar kerangka [tulang-tulang] si anak itu terbentuk dengan sempurna. Itulah setidaknya yang diberikan ibu kepada seorang anak saat mengandungnya.

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah Saw memberi contoh bagaimana ia sangat menghormati Halimah as-Sa’diyah meski ia hanya ibu susuannya [bukan ibu kandungnya]. Abu Daud mengeluarkan satu riwayat yang bersumber dari Abu Thufail bahwa dia berkata, “Aku pernah melihat Nabi Saw sedang membagi-bagikan daging di Ji’ranah. Tiba-tiba datang seorang perempuan. Dia langsung mendekati Nabi Saw. Nabi Saw membentangkan semiri [selendang] beliau untuk wanita itu. Lantas wanita itu duduk di atasnya. Aku bertanya: ‘Siapa wanita itu?’ Para sahabat menjawab: ‘Dia ini adalah ibu yang telah menyusui beliau.’”

Menghormati dan berhubungan baik dengan seorang ibu tak selayaknya diembel-embeli sebuah syarat. Meski ada perbedaan aqidah, bahkan jika ia seorang yang musyrik sekali pun tetap harus dihormati. Perintahnya, selagi tidak mengajak menyekutukan Allah dan selama perintah itu dalam hal melaksanakan kebaikan, layak untuk dituruti.

Di zaman Rasulullah Saw, Asma binti Abu Bakar pernah meminta fatwa kepada Rasulullah Saw karena merasa bingung. Ibunya datang kepadanya sedangkan ibunya itu masih termasuk wanita musyrik. Ia berkata kepada Rasulullah Saw, “Ibuku mendatangiku dan dia menginginkan aku [berbuat baik kepadanya], apakah aku [boleh] menyambung [persaudaraan dengan] ibuku?” beliau bersabda: “Ya, sambunglah ibumu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Membahagiakan Ibu
Membalas jasa ibu sehingga terbayar lunas semuanya jelas tak mungkin. Tak ada satu pun perbuatan yang bisa dilakukan oleh seorang anak sehingga ia bisa menggantikan segala apa yang telah dilakukan ibunya terhadap dirinya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dikisahkan, suatu ketika sahabat Abdullah bin Umar melihat seseorang menggendong ibunya untuk berthawaf dan ke mana pun ibunya meminta pergi. Kemudian orang tersebut bertanya kepada Abdullah bin Umar, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah bisa membalas jasa ibuku?” Abdullah bin Umar menjawab, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orangtuamu.”

Jika demikian, apa yang bisa dilakukan oleh seorang anak untuk membahagiakan ibunya? Sebuah kisah menarik diceritakan oleh seseorang di blog pribadinya [http://ricisan.wordpress.com/]. Dalam jurnalnya yang berjudul “Cerita Inspirasi Dari Sang Ibu…” ia berkisah ingin membahagiakan ibunya.

Sejak kecil ibunya selalu membangunkan dan menyiapkan sarapan pagi untuknya. Sekarang ia telah berusia tigapuluh tahun lebih dan sudah bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan tambang. Tetapi, kebiasaan ibunya itu tetap tak berubah. Suatu pagi ia meminta kepada ibunya untuk tak lagi repot-repot mengurusinya karena sudah bisa mengerjakannya sendiri. “Ibu sayang… ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku sudah dewasa,” pintanya.

Wajah ibunya seketika berubah. Juga pada suatu saat ketika ibunya mengajaknya makan di sebuah restoran. Setelah selesai, ia buru-buru mengeluarkan uang dan membayar semuanya. Ia ingin membalas jasa ibunya dengan uang hasil keringatnya sendiri. Tetapi raut sedih kembali tampak pada wajah ibunya. Semula ia menganggap itu wajar. Pernah ia membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa pada orang lanjut usia ada fase yang sangat sensitif dan cenderung untuk bersikap kekanak-kanakan. Tapi lama-kelamaan keadaan itu mengganggunya. Ibunya pun tak pernah mengatakan apa-apa.

Suatu hari ia memberanikan diri untuk bertanya kepada ibunya, “Bu, maafkan aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang membuat Ibu sedih?” Ia menatap wajah ibunya. Ada genangan airmata yang segera menetes.

Dengan terbata-bata ibunya berkata, “Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri.” Sejak saat itu ia sadar bahwa sebenarnya kebahagiaan ibunya bukan terletak pada materi yang diberikan kepadanya, tetapi lebih pada bagaimana membuatnya berarti dalam hidupnya.